Tujuan hidup yang hakiki (perenungan)

Selama ini kita sering membaca tulisan – tulisan yang membahas tentang hakikat sebuah kehidupan atau tentang tujuan dari sebuah kehidupan, tak ketinggalan ceramah agama dan nasehat para orang tua seputar hakikat dari sebuah kehidupan.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa setelah  banyak nasehat dan tulisan tentang hakikat kehidupan yang sampai kepada kita tidak membuat kita sadar ? bahkan seolah olah semakin menjauhkan kita dari tujuan yang hakiki dari kehidupan ini karena semakin banyak dan semakin sering kita medapatkan nasehat tidak lain yang kita rasakan adalah bosan, banyak orang yang sebetulnya merasakan hal ini dalam hidupnya tapi dia malu untuk memperbaiki dirinya hingga tanpa dia sadari dia semakin jauh dari tujuan hidupnya yang sebenarnya, dia terbuai dan asyik dengan indahnya kehidupan dunia hingga dia lupa bahwa dia mempunyai tujuan hidup yang lebih mulia.

Sungguh sangat jelas dalam Al Qur’an dituliskan bahwa :

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku”

Sejak duduk dibangku sekolah dasar kita sudah diperintahkan untuk menghafalkan ayat ini, tapi semakin tinggi pendidikan yang kita capai dan semakin banyak pelajaran yang kita terima menyebabkan ayat diatas terlupakan begitu saja, padahal itu adalah dasar dan landasan utama bagi kita untuk bisa menggapai hakikat dari kehidupan ini. Sebuah kenyataan yang sering kita jumpai dalam kehidupan kita ; banyak orang yang memiliki kecerdasan intelektual sangat tinggi tetapi tanpa dibarengi peningkatan iman dan akhlak membuat dia lupa diri, kecerdasannya bukan mendatangkan manfaat justru digunakan untuk membuat kerusakan dimuka bumi, na’udzubillahi min dzalik…

Bagaimana dengan pengertian ibadah itu sendiri, apakah ibadah hanya sebatas sholat, puasa, sedekah, membayar zakat, berdzikir? Tentu tidak, semua aktivitas dan kegiatan kita bisa bernilai ibadah selama niat kita benar, dikatakan dalam hadits “innama al a’malu binniyaat” semua pekerjaan tergantung kepada niatnya, tapi inilah yang selama ini kurang kita sadari hingga banyak dari aktivitas dan kegiatan kita berlalu begitu saja tanpa mendatangkan pahala bagi kita, begitu juga dalam mengamalkan hadits diatas kita lebih sering menggunakannya sebagai dalil tidak sahnya sholat atau dalil tidak diterimanya shodaqoh, dan sejenisnya, dan kita lupa bahwa jika hadits diatas lebih kita tekankan kepada aktifitas dan kegiatan kita sehari-hari maka tentunya kita akan lebih mendatangkan manfaat bagi kita.

Semoga tulisan singkat ini membawa manfaat terutama bagi penulis sendiri yang masih jauh dari menyadari tujuan kehidupan yang sebenarnya, amin….

Condongcatur, 28  Oktober 2009, 16:42 WIB

Lumb@ 2 Putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: